Berita Bola Sbobet

Berita prediksi dan hasil pertandingan bola paling lengkap dari situs sbobet

Page 2 of 7

Santi Cazorla Bicara Soal Isu Jadi Staff Pelatih Arsenal

Santi Cazorla angkat bicara mengenai spekulasi yang belakangan ini mengaitkan dirinya dengan sang mantan klub, Arsenal untuk menjadi bagian dari Staff pelatih.

Sebenarnya, pria asal Spanyol tersebut memang bukan sosok yang asing bagi Arsenal. Ia menghabiskan sekitar enam tahun karirnya bersama dengan klub London Utara, lalu memutuskan hengkang ke Villarreal pada musim panas tahun 2018 lalu.

Sekarang, Cazorla sudah berusia 35 tahun dengan kata lain yang bersangkutan bakal gantung sepatu alias pensiun dalam waktu dekat.

Menjelang masa pensiunnya, Cazorla diyakini mendapatkan tawaran dari Arsenal untuk menjadi bagian dari Staff pelatih Arsenal pasca gantung sepatu. Cazorla sendiri mengakui bahwa dia masih ingin tetap jadi bagian dari sepakbola setelah pensiun nanti.

“Saya ingin terus terhubung dengan sepakbola,” ujar Cazorla kepada Cadena Ser.

Lantas, apakah Cazorla tertarik untuk bergabung kembali ke Arsenal dan menjadi bagian dari Staff Mikel Arteta? Dia belum bisa memberikan jawaban, yang jelas Cazorla mengaku lebih tertarik bekerja sebagai direktur olahraga.

“Ya, saya bisa menjadi pelatih. Namun saya melihat diri saya lebih cocok untuk mengambil peran sebagai direktur olahraga. Saya sudah membuat keputusan terkait masa depan saya. Namun saya rasa ini bukan saat yang tepat untuk membicarakan apapun.” Tandasnya.

Karena faktanya saat ini dia masih terikat kontrak dengan Villarreal dan kompetisi La Liga Spanyol akan berlanjut lagi dalam waktu dekat, jadi Cazorla ingin fokus lebih dulu bersama klubnya tersebut.

“Saya sudah punya rencana mengenai masa depan saya. Namun saat ini bukan waktunya untuk membahas itu karena kami harus fokus ke kompotisi. Penundaan kompetisi ini membantu saya berpikir dan mendengarkan tubuh saya. Namun saya tidak mau mendahului atau berspekulasi terlalu banyak.”.

Sejak bergabung kembali dengan Villarreal pada musim panas tahun 2018 lalu, Cazorla tetap mampu tampil ciamik, termasuk musim ini. Sebelum la liga ditangguhkan, Cazorla membuat delapan gol dan enam assist dari 25 pertandingan bagi The Yellow Submarine.

Mulai 12 Juni besok, gelaran La Liga Spanyol akan kembali bergulir.

Pep Guardiola Masih Ingin Tangani Tim Nasional

Saat ini, Pep Guardiola memang masih menangani Manchester City dan memiliki sisa kontrak sampai tahun 2021 mendatang bersama raksasa Premier League tersebut. Meski begitu, mantan pelatih sukses Barcelona masih punya hasrat untuk menangani Tim Nasional.

Pelatih asal Spanyol ini harus diakui adalah salah satu pelatih tersukses dalam satu dekade terakhir. Dia menorehkan segudang prestasi bersama dengan Barcelona, Bayern Munchen dan sekarang Manchester City.

Pada intinya, Pep adalah salah satu pelatih terbaik saat ini, bahkan ada yang mengklaim bahwa dia adalah salah satu pelatih terbaik di Premier League dalam 10 tahun terakhir. Namun bagaimana dengan di level tim nasional?

Sebelum menerima tawaran dari Manchester City, Pep Guardiola sempat mengakui bahwa dia ingin menangani tim Nasional Argentina. Dia bahkan mengaku ingin mencicipi pengalaman menukangi Tim Nasional di level Internasional.

Meski belum kesampaian, Pere Guardiola selaku saudara kandung eks pelatih Barcelona ini mengungkapkan bahwa sampai sekarang Pep masih menginginkan pekerjaan tersebut.

“Pep Guardiola punya mimpi melatih tim nasional satu saat nanti. Namun itu bukan untuk saat ini,” kata saudara Guardiola, Pere Guardiola, seperti dilansir Sportskeeda.

Nama mantan gelandang Barcelona itu di jagat kepelatihan identik dengan trofi. Sejak terjun melatih di level senior, pria berusia 49 tahun tersebut telah meraup 29 trofi. Tak heran, banyak klub yang meminati Pep Guardiola.

Dengan segudang prestasi tersebut juga bukan tidak mungkin banyak tim Nasional yang ingin ditangani oleh Pep Guardiola, meskipun dia masih minim pengalaman pada bidang tersebut.

Tim Nasional brazil diyakini sebagai salah satu negara yang mendambakan servis Pep Guardiola. Menanggapi rumor itu, Pere beranggapan bahwa Tim Nasional Brazil selama ini selaku sukses dengan pelatih lokal, jadi mereka tidak perlu repot mencari pelatih baru yang berasal dari negara lain.

“Brasil telah memenangkan segalanya dengan pelatih lokal. Saya kira, Anda punya punya banyak pelatih bagus. Anda tidak perlu merekrut orang asing,” katanya.

Selain dikaitkan dengan tim Nasional Brazil, Pep belakangan ini juga sering dikaitkan dengan juara bertahan Serie A italia, Juventus.

Messi Hampir Gabung Klub Papan Bawah Spanyol Ini

Lionel Messi saat ini memang menjadi mega bintang Barcelona, pentolan klub La Liga Spanyol tersebut. Akan tetapi, di masa lalu yang bersangkutan sempat hampir mengukir kisah berbeda, karena ada beberapa klub yang nyaris mendapatkan jasanya.

Messi, 32 tahun, lahir di kota Rosario, Argentina. Dia tumbuh dan berkembang bersama dengan tim akademi Newell’s Old Boys, dan sejak berusia 13 tahun sudah direkrut oleh Barcelona.

Setelah sempat menaungi tim akademi La Masia milik Raksasa Catalan, Messi baru bergabung dengan Tim Utama sejak tahun 2004.

Sejak debutnya sampai sekarang, Messi berhasil menjelma menjadi legenda hidup Barcelona. Kapten Timnas Argentina itu menjadi mesin gol yang mematikan untuk El Blaugrana sejak masih berusia 17 tahun.

Sampai sekarang, dia tidak pernah membela klub lain selain Barcelona, tapi bukan berarti tidak ada kesempatan untuk pindah. Bahkan, beberapa pelatih dan klub mengklaim sempat nyaris mengamankan jasa Lionel Messi.

Salah satunya adalah Getafe, sebagaimana dituturkan oleh Presiden Klub, Angel Torres.

“Ya, kami sempat nyaris merekrutnya (Messi),” ujar Angel Torres kepada Marca, Kamis (21/5/2020).

Kesempatan itu terjadi di tahun 2004, dimana Getafe berusaha membujuk Barcelona untuk bersedia meminjamkan Messi dan menjamin tempat di tim utama bagi La Pulga yang kala itu masih berusia 17 tahun.

“Kalau tidak salah itu di tahun pertama atau kedua Lionel Messi setelah menembus tim utama Barcelona. Kami nyaris meminjamnya dari Barcelona pada saat itu.” Tandasnya.

Kesepakatan bahkan hampir tercapai antara kedua kubu, namun di saat-saat terakhir, pelatih Frank Rijkaard meminta Barcelona menolak kesepakatan tersebut. Dia tidak mengizinkan Messi untuk dipinjamkan ke Getafe.

“Pada akhirnya, Rijkaard tidak mengizinkan peminjaman itu terjadi, dan kami hanya bisa berangan-angan untuk menggunakan jasanya.” ujarnya.

Bisa dibayangkan, andai saja Messi benar-benar dipinjamkan ke Getafe, bisa jadi mega bintang Argentina tersebut tidak merasakan sukses seperti sekarang.

Sedangkan saat ini, Kontrak Messi di Barcelona sudah mulai memasuki fase akhir. Kontraknya akan berakhir di Camp Nou pada 2021 mendatang. Namun kabarnya pihak Barca tengah mempersiapkan kontrak anyar kepada La Pulga.

Leo Soputan, Mantan Pemain Duo Tangerang, Begini Nasibnya Sekarang

Tangerang adalah salah satu Kota yang memiliki dua klub sepakbola dalam sejarahnya, masyarakat disana terbelah menjadi fans Persita Tangerang dan Persikota Tangerang. Mungkin, kedua tim ini terus berselisih, tapi ada satu sosok yang terhubung dengan kedua klub tersebut.

Dia adalah Leo Soputan, dan faktanya meski pernah membela dua klub kota tangerang, faktanya Leo tidak berasal dari kota tersebut. Leo Soputan lahir di Kota Makasar, Sulawesi Utara, tepatnya pada tanggal 18 April 1976 silam.

Dia juga mengawali karirnya bersama dengan klub yang berasal dari Sulawesi, tepatnya Persma Manado. Namun, namanya mulai dikenal sejak kesuksesan bersama dengan Tim Sepakbola Sulut pada ajang PON tahun 1996.

Setelah itu, Leo Soputan hengkang ke Pelita Jaya yang dijuluki sebagai Los Galacticos sebab dihuni banyak pemain berlabel Tim Nasional Indonesia seperti Ansyari Lubis dan Kurniawan Dwi Yulianto.

Di tahun 1998 atau dua tahun berselang, dia memutuskan hengkang ke klub Tangerang, Persita Tangerang. Hanya saja, karirnya bersama Persita tidak berlangsung lama, setahun kemudian dia pindah lagi ke Pelia Jaya.

Lalu bergabung dengan Persijatim atau yang sekarang dikenal dengan sebutan Sriwijaya FC. Barulah pada tahun 2003 dia kembali ke Persita Tangerang. Setelahnya, pemain yang berposisi sebagai bek ini sempat membela Arema dan Persibom.

Di tahun 2009, Leo Soputan kembali ke Tangerang, tapi kali ini bukan untuk Persita, melainkan untuk klub rival, Persikota Tangerang.

Nah, lantas bagaimana kabarnya mantan pemain duo tangerang tersebut saat ini? Leo Soputan melanjutkan karir di dunia sepak bola sebagai juru taktik dan telah memiliki lisensi kepelatihan level B AFC sejak pertengahan tahun 2019 lalu.

Dia mengaku bahwa cita-citanya sejak dulu memang ingin menjadi pelatih,

“Saya melanjutkan karir sebagai pelatih karena memang sudah menjadi cita-cita sejak saat masih aktif bermain,” ungkap Leo Soputan kepada INDOSPORT.

Dia bahkan sudah mulai bekerja di dunia kepelatihan, dengan menjadi assisten Rocky Martin selaku pelatih Klub Sulut United di Liga 2 Indonesia.

“Saya bergabung ke Sulut United karena menjadi kesempatan untuk melatih dan membina pesepak bola asal daerah ini agar bisa mengangkat nama Sulut di kancah sepak bola nasional,” jelas Leo Soputan.

Tak Betah di Juve, Gelandang Prancis ini Siap Hengkang ke MU

Gelandang Prancis, Adrien Rabiot disebut-sebut sudah tak betah dengan karirnya di Juventus meski baru menjalani musim debut. Sang pemain pun diberitakan siap hengkang ke klub Premier League, Manchester United.

Di satu sisi, Manchester United sendiri dikabarkan memang akan memburu gelandang anyar pada bursa transfer musim panas mendatang. Mereka kekurangan stok gelandang setelah kepergian Ander Herrera dan Marouane Fellaini pada musim panas kemarin.

Beberapa nama mulai dikaitkan dengan raksasa Premier League tersebut, termasuk salah satunya Adrien Rabiot.

Setan Merah sebenarnya sudah mengejar tanda-tangan sang pemain sejak yang bersangkutan masih di PSG. Namun seperti diketahui, Rabiot pada akhirnya lebih memilih bergabung dengan Juventus lewat status Free Transfer.

Gazzetta Dello Sport mengklaim bahwa Solskjaer masih tertarik untuk menggaet pemain asal Prancis itu di bursa transfer yang akan datang. Kabar gembiranya, sang gelandang diberitakan juga tertarik untuk pindah ke MU.

Menurut laporan tersebut, Rabiot merespon positif ketertarikan dari Manchester United. Rabiot diberitakan cukup kecewa bergabung dengan Juventus. Pasalnya, dia sangat jarang menjadi andalan di tim utama Bianconneri arahan Maurizio Sarri musim ini.

Karenanya, pemain berusia 25 tahun itu diyakini sedang mempertimbangkan kemungkinan pindah pada bursa transfer musim panas mendatang. Laporan yang sama mengklaim bahwa Adrien Rabiot menilai Manchester United sebagai pilihan yang bagus untuk karirnya.

Di satu sisi, Juventus juga tidak keberatan melepas Rabiot pada bursa transfer mendatang. Mereka menilai bahwa saat ini tim mereka tengah surplus gelandang. Jadi mereka merasa kehilangan Rabiot tak lantas akan mengubah komposisi skuat tim.

Hal ini juga nampak dari keputusan Juventus melepas Emre Can ke Borussia Dortmund pada bursa transfer musim dingin Januari lalu. Namun pihak Juventus diberitakan melihat ketertarikan MU ini sebagai kesempatan untuk merekrut Pogba.

Karena itu, Juventus disebut-sebut berencana memasukkan nama Adrian Rabiot dalam tawaran mereka untuk merekrut Pogba.

Dengan fakta bahwa Rabiot masih punya kontrak sampai tahun 2023 mendatang di Turin, Manchester United bisa menebusnya lewat kocek 30 Juta Euro.

Jika Saja Tidak Kecanduan Golf, Pemain Ini Bisa Gabung Barcelona

Jonjo Shelvey memang hanya membela klub papan tengah Inggris, Newcastle United. Namun, jauh dari itu, gelandang berusia 28 tahun dinilai bisa jadi incaran Barcelona andai fokus pada karirnya di sepakbola, bukan malah kecanduan bermain golf.

Sebenarnya, sosok Jonjo Shelvey memang sempat menarik atensi publik. Performanya bersama dengan Newcastle United terbilang bagus sejak beberapa tahun lalu. Dia bahkan sempat dikaitkan dengan Manchester United, Arsenal sampai Liverpool.

Sayangnya, dalam beberapa musim terakhir ini performa pemain Inggris tersebut tampak menurun. Dia bahkan tak mampu menyelamatkan The Maghpies dari Jurang Degradasi pada kampanye musim 2017/18 lalu.

Lantas, apa yang menjadi penyebabnya? Melansir dari Evening Standard, adalah Matt Ritchie yang merupakan rekan setim Shelvey angkat bicara mengenai hal tersebut.

Bagi Richie, Jonjo Shelvey terlalu tergila-gila dengan olahraga golf, Bahkan dalam seminggu, ia mampu bermain hingga tiga kali. Dia sempat mengingatkan sang gelandang, namun diabaikan begitu saja.

“Dia (Shelvey) gila. Dia akan bermain Golf tiga kali seminggu. Dan saya katakan: ‘Jonj, kamu tak bisa melakukan itu’. Dia menjawab: Tidak, saya merasa baik Matty,'” ujar Ritchie.

Hal tersebut sangat disayangkan oleh Ritchie, mengingat bakat yang dimiliki Shelvey sangat luar biasa. Andai fokus pada sepakbola dan meninggalkan Golf, yang bersangkutan yakin Jonjo Shelvey bisa jadi incaran tim-tim besar sekelas Barcelona.

“Pria ini (Shelvey) memiliki bakat alami. Cukup lihat cara dia mengumpan, menerima bola dan menggerakan bola. Saya sering berkata padanya; ‘Jonj, jika kamu bisa sedikit fokus, kamu bisa bermain di Barcelona dengan mudah,'” lanjut Ritchie.

Sebagai informasi, sebelumnya sempat disebut bakat muda saat pertama kali diboyong Liverpool pada 2010. Bahkan ia mampu tampil sebanyak enam kali bagi Timnas senior Inggris. Akan tetapi, penampilannya yang tak konsisten merusak bakatnya tersebut.

Jonjo Shelvey gagal menunjukkan kemampuannya secara berkelanjutan dan berakhir di tim-tim papan bawah, termasuk diantaranya Swansea City dan sekarang Newcastle United.

Meski demikian, tentu saja Jonjo Shelvey masih bisa merubah nasibnya, mengingat usianya masih 28 tahun.

Begini Ternyata Rahasia Gol Free Kick Lionel Messi

Lionel Messi telah berevolusi menjadi seorang pencetak gol handal dengan berbagai cara, termasuk lewat tendangan Free Kick. Dia sudah mencetak banyak gol dengan cara itu, dan belum lama terungkap rahasia tendangan bebas dari mega bintang Argentina.

Messi memang seorang pencetak gol ulung, tak ada yang membantahnya. Dia sudah mencetak lebih dari 700 gol bersama Barcelona dan Timnas Argentina sepanjang karirnya sejauh ini. Wajar saja, Messi punya beragam cara untuk mencetak gol.

Selain lewat aksi giriangan bola, sosok yang kini sudah berusia 32 tahun itu juga mahir dalam mengeksekusi tendangan bebas. Total, Sejauh ini pemain berjuluk La Pulga itu telah mengemas lebih dari 50 gol dari free kick.

Tentu saja, banyak yang merasa penasaran bagaimana trik yang dilakukan Messi agar bisa melepaskan tendangan bebas akurat yang kemudian berbuah gol. Nah, belum lama Dr. Rajpal Brar membeberkan teknik free kick Messi dalam podcast Squawka belum lama ini.

Dalam penjelasannya, mega bintang Argentina tersebut secara sengaja melakukan manuver pada tubuh dan kakinya. Manuver tersebut membuat kakinya tampak seperti keseleo setelah menendang bola.

“Ketika Messi menendang bola, ia menggeser pinggulnya ke kanan. Ia benar-benar menggerakkan pinggulnya ke kanan saat ia berusaha menendang untuk membuka tendangan kaki kirinya, Dan apa yang dilakukannya pada kaki tumpuannya adalah bahwa ia memindahkan semua beban ke bagian luar kaki.”

“Jadi ketika ia mengikuti dan ia menendang bola – kaki kiri itu mengayun dari kiri ke kanan – sekarang semuanya berjalan ke luar pergelangan kakinya, hampir seperti apa yang terjadi ketika pergelangan kaki Anda terkilir,” jelas dokter tersebut.

Entah benar atau tidak apa yang dijelaskan oleh sang Dokter, yang pasti dia menyertakan bukti berupa gambar lambat pergerakan Messi saat melepaskan tendangan bebas. Dan memang pada gambar tersebut, Kaki Messi tampak seperti keseleo setelah menendang bola.

Adapun, Messi sendiri sudah mengoleksi 718 penampilan bagi Barcelona di semua ajang kompetisi. Ia mengemas 627 gol dan 261 assist. Tak heran jika pemain berusia 32 tahun itu masih jadi andalan sampai sekarang.

10 Kiper Terbaik Dunia 2020 Versi FourFourTwo

Peranan seorang penjaga gawang dalam sebuah tim sepakbola sangat penting, terlebih di era Sepakbola Modern seperti sekarang ini. Kiper adalah palang terakhir dalam barisan pertahanan sebuah tim, kemampuannya sangat diandalkan.

Selama beberapa tahun terakhir ini, sosok penjaga gawang mulai jadi sorotan. Banyak yang dibanderol dengan angka yang sangat tinggi seperti Kepa Arrizabalaga, David De Gea, atau Thibaut Courtois. Hal tersebut membuktikan bahwa Kiper kini mulai dihargai.

Selain hanya menjaga gawang agar tidak kebobolan, peranan seorang kiper juga berkembang seiring dengan berjalannya waktu. Dalam strategi sepak bola modern, kiper bisa membantu serangan ketika tendangan bebas atau sepak pojok.

Selain itu, mereka juga dibutuhkan saat tim sedang berusaha untuk membangun serangan balik cepat. Terkadang, tak sedikit penjaga gawang yang sampai maju untuk membantu lini pertahanan ketika memang terdesak atau diperlukan.

Melansir Give Me Sport, Senin (20/4/2020), FourFourTwo membuat daftar 10 kiper terbaik di dunia. Menariknya, dalam 10 pemain tersebut ada nama David de Gea.

Ya, penjaga gawang asal Spanyol tersebut memang sempat cemerlang, namun beberapa tahun belakangan ini performanya meredup. Bahkan, pihak Manchester United sempat dikabarkan ingin membeli kiper anyar pada musim panas nanti.

Hanya saja, kendati berhasil masuk dalam daftar ini, nama David De Gea berada di urutan ke-10 atau paling buncit. Yang mengejutkan adalah Peter Gulacsi, dia memang tampil cemerlang bersama dengan RB Leipzig, akan tetapi kualitasnya mampu menggeser kiper top sekelas Kepa Arrizabalaga.

Sedangkan Kiper Barcelona, Marc-Andre Ter Stegen berhasil menempati posisi ke-3 dalam daftar ini. Lantas siapa yang nomor satu? Tiada lain adalah kiper andalan Atletico Madrid, Jan Oblak.

Adapun untuk selengkapnya, berikut daftar 10 Kiper Terbaik Dunia 2020 versi FourFourTwo.

1. Jan Oblak – Atletico Madrid/Slovakia
2. Alisson Becker – Liverpool/Brazil
3. Marc-Andre Ter Stegen – Barcelona/Jerman
4. Thibaut Courtois – Real Madrid/Belgia
5. Keylor Navas – Paris Saint-Germain/Kolombia
6. Peter Gulacsi – RB Leipzig/Hungaria
7. Samir Handanovic – Inter Milan/Hungaria
8. Manuel Neuer – Bayern Munchen/Jerman
9. Ederson Moraes – Manchester City/Brazil
10. David De Gea – Manchester United/Spanyol

Menurut Sosok Ini, Conte Adalah Pelatih Yang Lebay

Mantan pelatih Serie A italia, Aldo Agroppi tak membantah fakta bahwa Antonio Conte merupakan salah satu pelatih terbaik saat ini. Hanya saja, mantan manajer Chelsea itu terlampau ekspressif, sehingga dia terlihat berlebihan.

Adapun, Agroppi sendiri merupakan salah satu pelatih aktif di era 80-an, dengan menangani sejumlah klub Serie A Italia saat itu. Sedangkan saat ini, ia berprofesi sebagai pandit. Dan dalam urusan mengkritik seseorang, Agroppi memang tak pernah tanggung.

Sasaran kritik terbarunya adalah manajer Inter Milan, Antonio Conte. Menurut pandangannya, mantan pelatih Juventus itu adalah sosok manajer yang lebay karena terlalu ekspresif. Padahal, dari segi kualitas, Conte menurutnya masih belum layak dianggap sebagai salah satu yang terbaik.

“Saya tidak suka Conte karena sifat eksibisionisnya, terlalu banyak teriakan dan drama di sisi lapangan. Anda tidak meraih kemenangan dengan menunjukkan aksi sirkus serta lolongan,”

“Dia selalu bersama tim hebat, tapi juga kerap menerima kekalahan yang berat. Saat saya mendengar opini kalau dia yang memberikan mentalitas kuat kepada tim Italia, saya tertawa,”

“Conte dinilai berlebihan, dan sekali lagi musim ini ia tersingkir dari Liga Champions di babak pertama dengan Inter dan sedang tertinggal di Serie A. Dia dipecat oleh Arezzo dan Atalanta,” ujarnya kepada TMW Radio.

Conte sendiri memang pernah memenangkan gelar Serie A Italia tiga kali beruntun bersama dengan Juventus. Bahkan, saat itu Juventus masih berusaha untuk bangkit dari keterpurukan mereka pasca degradasi terkait kasus Calciopoli.

Pun juga demikian saat menangani Chelsea, Conte yang diragukan malah mampu memenangkan gelar juara Premier League. Namun, Agroppi tak lantas kagum dengan pencapaian tersebut, karena itu dianggapnya pencapaian yang biasa saja.

Yang jadi masalah adalah karena sikapnya yang berlebihan di atas lapangan, jika tidak karena itu, Agroppi mungkin mengagumi sosok Conte.

“Dia memenangkan Scudetto bersama Juventus, seperti banyak pelatih lainnya, tapi tidak pernah memberikan dampak di Liga Champions. tidak masalah jika dia tak bersikap lebay soal itu, dengan komando serta teriakannya.,” pungkasnya.

Messi Sekalipun Tak Mampu Kembalikan Kejayaan Italia

Krisis Ekonomi yang dialami klub-klub Serie A Italia dianggap akan sulit untuk berakhir. Bahkan, seorang Lionel Messi sekalipun bergabung dengan klub Serie A tidak akan mengembalikan situasi.

Serie A Italia dulunya memang dikenal sebagai liga sepakbola terbaik di Eropa bahkan dunia. Banyak yang menganggap Liga Calcio sebagai kiblat sepakbola. Tak heran jika banyak pemain bintang yang bermain untuk klub Italia di masa lalu.

Namun, sejak munculnya kasus Calciopoli di tahun 2006, Serie A Italia mulai ditinggalkan para penikmat sepakbola. Situasi tersebut membuat klub-klub disana mengalami krisis, sehingga sulit mendatangkan pemain bintang.

Sedangkan di satu sisi, Messi sempat dikabarkan akan hengkang dari Barcelona guna merapat ke Italia. Inter Milan pun disebut sebagai klub yang paling berpeluang mendapatkan jasa pemain terbaik dunia enam kali tersebut.

Spekulasi ini jelas hanya isapan jempol belaka, dan diklaim hanya permainan media setelah Juventus berhasil menggaet Cristiano Ronaldo dari Real Madrid di tahun 2018 lalu. Namun kemudian, Isu ini kembali diangkat oleh mantan presiden Inter Milan, Massimo Moratti, beberapa hari yang lalu.

Menanggapi perkataan mantan Presiden Nerazzurri tersebut, Presiden La Liga Javier Tebaz mengutarakank pendapat yang berbeda. Menurutnya, Messi sekalipun bergabung dengan klub Serie A tak akan mampu mengembalikan kejayaan kompetisi.

“Saya tidak yakin kedatangan Messi bisa menyelesaikan permasalahan Serie A, yang berkaitan dengan hubungan antara utang yang tinggi serta pemasukan yang kurang. Angka-angka Serie A berada di bawah tekanan finansial yang nyata dan Leo Messi tak bisa memperbaiki masalah itu,” ungkapnya kepada La Gazzetta dello Sport.

Secara pribadi, Javier Tebaz berharap agar Messi tetap bertahan di La Liga Spanyol. Namun, jika memang akhirnya pergi hal tersebut tak akan melemahkan kompetisi yang dia pimpin.

“Saya ingin Lionel Messi bertahan di sini, tetapi jika dia pergi, itu tidak akan menjadi sebuah tragedi. Orang-orang berkata bahwa La Liga kehilangan banyak uang jika Cristiano Ronaldo pergi, tapi sebaliknya kami justru mendapatkan lebih banyak, bahkan di Portugal.”

“Bintang besar membantu, namun tidak besar untuk sebuah liga,” pungkasnya.

Page 2 of 7

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén