Bek sekaligus Kapten Paris Saint-Germain Thiago Silva mengakui bahwa dirinya adalah salah satu orang yang merasa cemas dan takut terhadap ancaman Wabah COVID-19 yang tengah melanda banyak Negara.

Pandemi Virus Corona atau COVID 19 ini memang sedang mewabah di banyak negara, termasuk Prancis. Alhasil, pihak otoritas setempat memberhentikan sementara waktu kompetisi sepakbola, tak terkecuali ligue 1 Prancis.

Dengan masa ‘liburan’ ini, Thiago Silva pada akhirnya memutuskan untuk mudik ke kampung halamannya, Rio De Janeiro, brazil. Sosok berusia 35 tahun tersebutpun mulai menjalani masa karantina di rumahnya sendiri.

Dalam wawancara bersama SporTV, mantan pemain AC Milan menganggap ini sebagai masa-masa sulit bagi semua orang.

“Saya tiba kemarin setelah penerbangan yang agak sepi. Di sini (di Rio de Janeiro), saya dalam karantina. Ini adalah situasi yang tidak mudah tetapi manusia memiliki kapasitas yang luar biasa untuk adaptasi,” ucapnya seperti dilansir Goal International.

Sama seperti di Paris, di Brazil juga banyak fasilitas yang ditutup sebagai tindakan preventif terhadap penyebaran virus ini.

“Bagaimana saya akan menjaga diri saya dalam kondisi yang baik? Ini akan menjadi rumit di Paris seperti di sini. Di Paris, pusat-pusat pelatihan telah ditutup, klub juga. “

“Dan di Brasil, mereka hanya membuat keputusan yang sama. Kami akan mencoba untuk berlari-lari tetapi akan lebih sulit untuk memperkuat tubuh atau hal semacam itu.” Tandasnya.

Silva juga meminta untuk semua orang memperhatikan apa yang mereka konsumsi, dan menegaskan bahwa ini bukan liburan.

Sosok berusia 32 tahun itu pun tak bisa memungkiri fakta bahwa ancaman virus ini membuat banyak orang ketakutan, termasuk dirinya.

“Anda juga harus memperhatikan makanan. Kita tidak sedang berlibur. Ini momen refleksi. Kita semua takut dengan apa yang terjadi,” seru Silva.

Brazil sendiri terbilang sebagai salah satu negara yang jauh dari China (Negara asal Virus Corona), namun sudah ditemukan beberapa kasus positif disana, bahkan 10 orang diantaranya telah meninggal dunia.

Fakta tersebut membuat pemerintah setempat menutup sejumlah perbatasannya agar penyebaran virus tidak makin meluas.